Share it

Selasa, 28 Agustus 2012

Kebumen, arti dari sebuah ketulusan


Setelah 3 hari menikmati kota Garut nan seksih, kami melanjutkan perjalanan menuju Kebumen, entah apa sebenarnya yang ditawarkan kota ini untuk kami nikmati nantinya, kami juga tidak tau, yang pasti kami tetap mau melangkahkan kaki untuk tinggal beberapa hari disana. salah satu tujuannya, kami pengen sekali bertemu dengan seorang sahabat yang sudah beberapa tahun tidak bertemu, yang kebetulan dia sedang tinggal di Kebumen, selain mencari job seekers yang bersedia ditempatkan di Jakarta.

Perjalanan dari Garut menuju Kebumen cukup lama, macet tak terkira. Belum lagi banyaknya sepeda motor yang lalu lalang tak tentu arah, mobil pribadi plat B yang katanya asal kota Metro  minim tata krama mengemudi sesuka hati nenek moyangnya saja, untung kami masih bisa menguasai diri setelah belajar cara menguasai diri ala Ajahn Bram melalui bukunya yang terkenal itu. Kemacetan saat itu hanya menimbulkan sedikit emosi, sisanya sukacita tanpa cukur bulu.

Setelah menempuh perjalanan sekitar 9 jam, tibalah kami di Kebumen, Arahan dari sobat kami itulah  yang mempertemukan kami dengan dia yang sedang menunggu didepan tugu entah siapa itu. Kamipun menuju rumahnya yang terletak diatas bukit. Setelah tiba dirumahnya, cipika-cipiki dengan teman tersebut, kami agak sedikit terkejut akan penerimaan keluarganya atas kedatangan kami. Mereka bahkan masih setia menunggu kedatangan kami walau sudah tengah malam dan gelap gulita menyelimuti dunia saat itu. Kami ngolor-ngidul sebentar sambil menikmati lontong buatan teman yang memang hobby masak, masakannya enak tenan hanya beda tipis dengan master chef, bedanya master chef ada jurinya yg gayanya menjijikkan sok serius gitu, sedangkan yang ini ditemanin anggota keluarga yang senyum-senyum simpul.

Kebumen saat itu benar-benar dinginnya menusuk ke tulang, tapi terasa hangat dan tersanjung akan penerimaan keluarga ini terhadap kami. Rumahnya jauh dari kesan mewah tapi penerimaan dan ketulusan mereka menampung kami benar-benar memberikan kehangatan tersendiri. Ketulusan ini bisa anda lihat dari wajah mereka yang tanpa kepura-puraan, sukacita alami mengalir dan jelas terpancar dari sana, kami bersyukur bisa mengenal sebuah keluarga baru.


Akibat rasa lelah sepanjang perjalanan, kamipun bersiap untuk tidur, dikarenakan hanya ada satu kamar yang tersedia , kami berdua yang cowo tidur di bangku ruang tamu + ruang makan yang baru saja kami duduki. Bermodalkan kain sarung kamipun mencoba untuk tidur, berhubung sarungnya hanya mampu untuk menutupi sebagian tubuh, jadilah ketika sarungnya ditarik kearah kepala, bagian kaki akan mengalami kedinginan luar biasa dan demikian sebaliknya. Belum lagi akibat kedinginan sering bangun di tengah malam, pikir-pikir sebentar antara mau kencing dipohon samping rumah atau ditoilet selama setengah jam, keputusan telah diambil dan sipohonlah yang jadi sasaran air mancur mini ini.

Dini hari saya sudah bangun, untung saja 2 gelas kopi sudah tersedia dimeja,  yang satu merupakan jatahku sedangkan yg satunya jatah menantu sang pemilik rumah. Gelas kopiku sudah habis, tatapanku mengarah kegelas yang satunya lagi masih terisi penuh, mumpung yang punya rumah ga lihat, gw sikad juga dah tuh kopi, dan ketika timbul pertanyaan akan keberadaan kopi tersebut, sebagai seorang laki-laki sejati anda harus benar-benar menjawab jujur setiap pertanyaan yang muncul, dan saya hanya menjawab "tadi dah diberaki lalat"!! (padahal awaq boong terhadap pembaca) Beres!! Itulah arti sesungguhnya dari seorang laki-laki sejati

Paginya setelah sarapan, kami jalan-jalan keliling Kebumen untuk sekedar melihat-lihat sambil nyari rumah "teman". Akhirnya kami menemukan rumah "teman" tersebut untuk kami singgahi di malam kedua, bukan apa-apa, cuma rasanya lebih sopan jika menginap dirumah sahabat tersebut tidak lebih dari 2 malam. secara kita berempat bo, cost-nya terlalu besar.

Selanjutnya dihari yang sama, kami berkeliling lebaran kerumah teman-temannya teman kami itu yang sedang kami temani, seperti biasa beragam makanan pasti tersedia dimomen lebaran seperti ini, tape  salah satu menu yang kulahap sedemikian rupa, hal ini pengingatkan saya akan lirik sebuah lagu masa kecil saya yang berbunyi seperti ini “tape –tape, obatni na male, diallang jadi TE” hahahaha… perut kenyang, hati tenang minimal sampai ke simpang.

Malam harinya kami bermaksud untuk pamit kekeluarga teman kami, karna harus menginap dirumah “teman” kami yang satunya lagi. Dan hal yang paling mengharukan ternyata kami telah dihidangkan opor ayam kampong untuk kami makan. Mungkin buat anda ayam kampong tidak begitu spesial, tetapi saya tau persis arti yang sesungguhnya, ayam kampong hanya akan dihidangkan bagi tamu yang special, itu sebagai bentuk penghargaan kepada tamu yang datang. buat mereka daging ayam kampong merupakan symbol dari penghargaan, kesenangan dan kesan yang indah. Dan perlu anda ketahui ayam kampong tersebut sengaja dibeli khusus untuk kami.

Saya jadi teringat hal yang seperti ini bahkan terjadi dikeluarga kami. Tamu yang spesial akan dapat jatah berupa hidangan ayam kampong sebagai ucapan trimakasih dan syukur, setiap anggota keluarga yang mau bepergian jauh akan mendapatkan ayam kampong sebagai menu paling mewah.  Sampai sekarang saya selalu kangen masakan ayam kampong ala ibu sinaga.  Memang ayamnya kampungan tapi rasanya bo, jauh lebih nikmat daripada ayam kampus apalagi ayam kampret…

Tidak sampai disitu saudara-saudara, kelapa muda yang sudah kami impikan sejak siang hari juga ternyata sudah dipetik beberapa buah, bener-bener seperti mimpi dibawah pohon kelapa rasanya ketika mendapatkan kejutan special seperti ini. Seperti kata pepatah, “kelapa yang benar berada diperut orang yang benar pada saat yang benar-benar…..haus kelapa muda” . pribahasa ini cocok bagi kawula muda yang hampir hamil muda.

Tulus sebuah kata yang hanya mudah diucapkan, tapi tidak semua orang mampu melakukannya. Tulus mengagambarkan sesuatu yang tampa pamrih dan kata yang mematahkan sejuta argumentasi.  Mungkin banyak orang disekeliling anda yang mudah berkata “ kalau kekota A atau B datanglah berkunjung, menginaplah disana dan janji-janji manis lainnya. tapi jangan heran ketika anda sudah berada disana, orang yang anda temui bahkan susah dihubungi karna hape sudah dimatikan”.

Kebumen, membukakan mata kami untuk lebih mengerti akan arti dari sebuah ketulusan melalui penerimaan keluarga ini. Ketulusan tidaklah harus terkesan mewah dan menghabiskan banyak duit, tapi senyum dan pintu rumah yang terbuka rasanya sudah cukup. Senang mengenal keluarga baru di Kebumen, kami akan selalu berdoa supaya keluarga mereka dilimpahi berkat.

Trimakasih sudah menerima kami para pelancong jalanan bukan gelandangan!!!


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar